Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, 28 July 2016

Kemajauan zaman yang tidak dapat diredam menjadi salah satu bukti bahwa manusia memang tidak pernah ada puasnya terutama untuk berinovasi. Namun kemajuan zaman haruslah menyeluruh pada semua sektor. Bukan hanya dalam bidang teknologi saja.
Banyak hal positif yang dapat diambil dari kemajuan zaman terutama dibidang teknologi. Dulu sekali ketika hendak mengabari saudara yang berada dikota lain kita harus mengirim surat yang kemungkinan sampai kepada penerima dapat 2-7 hari.
Namun dengan kemajuan teknologi seperti sekarang jarak bukan menjadi alasan untuk bersilaturahmi. Mulai dari ditemukannya Telepon, hingga Internet. Kini kita dapat bertatapmuka dengan orang yang kita sayang sekalipun dengan jarak yang sangat jauh. Itulah teknologi.
Perkembangan teknologi sangat berimbas pada dunia pendidikan di Indonesia. Kini semakin banyak alat peraga yang dulunya sederhana kini menjadi terkesan mewah dan menggugah. Ketika dulu alat peraga hanya berbentuk kertas karton, kini sudah ada infocus, dan alat lainnya.
Begitu banyak alat dan teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan belum terlihat imbasnya. Jika diperhatikan dunia pendidikan kita seperti berjalan  ditempat saja.
Kemajuan teknologi hanya dipergunakan untuk kepentingan pribadi saja. Bahkan tidak sedikit penggunaan teknologi malah mengganggu keberhasilan proses belajar mengajar.
Alat/ teknologi yang seharusnya meningkatkan kualitas pembelajaran malah berbalik menyerang dan melemahkan kulaitas pembelajaran. Sungguh ironi memang, namun  hal inilah yang kini sedang terjadi.
Begitu mudah mengakses internet harusnya dapat membuat anak agar lebih mudah mencari reperensi dalam belajar, namun tidak sedikit anak yang memanfaatkan  kemudahan tersebut untuk melihat sesuatu yang tidak pantas.
Ketika seorang anak sudah terkontaminasi bahkan ketergantungan  pada sesuatu, maka sulit untuk kita merubahnya  kembali. Pengawasan dan penggunaan teknologi yang bijak menjadi kuncinya.
Bukan berarti kita menolak akan perubahan, namun penggunaannya saja yang harus tepat sasaran. Peran orangtua sangatlah penting. Karena dari lingkungan keluargalah awalnya karakter, bakat dan minatanak akan terbentuk.

Sumber: http://sdn2margacinta.sch.id/kaitan-erat-antara-perkembangan-teknologi-dan-kualitas-pendidikan/

Saturday, 28 November 2015

Apapun pekerjaannya, kita dituntut untuk profesional apalagi kita adalah abdi negara, pendidik bahkan diberi gelar guru tanpa tanda jasa.
  • Guru mendidik para calon pemimpin dimasa depan.
  • Guru membentuk karakter dan sikap para penerus generasi negara Indonesia.
  • Guru itu di guru dan ditiru. Digugu perintahnya dan ditiru kelakuannya.
Bagimana perintah kita digugu/dikerjakan jika kita saja belum bisa mengerjakan apa yang diperintahkan. Bagimana akhlak/ tingkah laku kita layak untuk ditiru jika akhlak kita saja tak pantas ditiru.
  • Guru mungkin saja “Pahlawan tanpa tanda jasa” namun kenyataannya gurulah yang paling berjasa membentuk karakter suatu bangsa.
  • Setiap diri adalah guru. Tak peduli siapa kita, pekerjaan kita, strata sosial kita, darimana kita berasal. Kita semua adalah seorang pendidik. Guru bagi diri sendiri kita sendiri, dan guru bagi anak-anak kita. Karena guru pertama yang dikenal oleh anak adalah orangtua mereka
Kita harus lakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik, sehingga hasil yang kita dapatkan sesuatu hal yang baik pula.
  • Didiklah penerus bangsa ini dengan penuh kejujuran hingga jika mereka besar nanti menjadi seorang yang jujur.
  • Didiklah para penerus bangsa penuh dengan keikhlasan hingga jika besar nanti mengabdi dengan penuh keikhlasan
  • Didiklah calon pemimpin masa depan dengan penuh tanggung jawab. Hingga jika kelak mereka menjadi pemimpin, maka mereka menjadi pemimpin yang bertanggung jawab pada rakyatnya
Sumber: http://sdn2margacinta.sch.id/guru-siapa-mereka-ini-jawabannya/

Monday, 16 November 2015

Negara Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar didunia sekaligus negara yang dijuluki tanah surga nampaknya mulai kehilangan bibit pengelola ketahanan pangan. Seringnya Indonesia meng-infor  bahan makanan seperti kedelai, beras, jagung dari negara lain menjadi salah satu ciri.

Ketahanan pangan bukan hanya da ditangan pemerintah, namun juga ada ditangan rakyat itu sendiri. Bagaimana tidak, di zaman modernisasi seperti sekarang hampir tidak ada anak yang bercita-cita menjadi petani. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi Dokter, pilot, tentara bahkan PNS.

Bukan berarti mereka tidak boleh memiliki mimpi, namun tidak ada salahnya jika anak ingin menjadi seorang petani/pekebun. Bukan Dokter, pilot yang menghasilkan beras, tetapi petani. Dan anehnya lagi terkadang anak malu jika mereka ditanya apa pekerjaan orangtua mereka. Mereka lebih bangga menyebutkan bahwa orangtuanya adalah seorang direktur perusahaan daripada seorang petani.

Betapa rendahnya bahkan jika mereka dalah orangtuanya. Inilah yang harus kita tanamkan sejak dini kepada anak/siswa. Terlebih lagi kita tinggal dipedesaan yang didominasi oelh para petani. Berikan pemahanan kepada anak/siswa bahwa petani memiliki andil yang besar bagi bangsa ini.  Petani itu adalah pahlawan pangan suatu negara.