Sunday, 15 February 2015



Tepatnya pada hari Minggu 08 Februari 2015 diadakan latihan bersama Padepokan Silat “GALAUH PANGLIPUR” Kecamatan Cijulang Kabpaten Pangandaran yang bertempat diKampung Badud Dusun Margajaya Desa Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten pangandaran. Menurut salah satu pupuhu GALUH PANGLIPUR (ABAH USUP) mereka sengaja memilik Kampung Badud ini karena mencari suasana baru “ Bosen Pami disisi laut bae mah” tuturnya.
Menurut beliau Kampung badud ini akan memiliki masa depan yang sangat baik dalam sector pariwisata kedepannya. Selain suasana alam yang sangat menawan dan memanjakan mata, juga terdepat Kesenian yang benar-benar tidak ada ditempat lain. Yakni Kesenian Badud.
            Selain itu kami merasa bangga sebagai orangtua bahwa masih ada anak muda dizaman ini yang mau menggeluti kesenian buhun ini. Biasanya anak muda sekarang ini lebih suka pada Gadget dibandingkan dengan kesenian tradisional. Namun disini sangat luar biasa, masih banyak anak yang menyenangi seni tradisonal. Apalagi kesenian ini adalah kesenian asli dari Kabupaten Pangandaran, sehingga sangat perlu dilestarikan dan diadakan re-generasi. Dan SDN 2 Margacinta menjadi salah satu sekolah pelopor dalam melestarikan Kesenian Buhun ini.
            Kegiatan latihan ini berlangsung sampai dengan sore hari. Kemuudian sebagian besar para peserta latihan itu melanjutkan petualangan berwisata di Desa margacinta dengan menyambangi Wisata Alam Cijulang Body rafting ( CBR ).






































Prihatin dengan semakin sirnanya kesenian tradisional, maka SDN 2 Margacinta pada tahun lalu tepatnya pada tahun Pelajaran 2013/2014 memasukan Seni tari Tradisional Kedalam Ekstrakulikuler. Pihak sekolah berharap bahwa dengan adanya Ekstrakulikuler ini perkembangan tari tradisional akan kembali  memuncak dan kembali berjaya.
awalnya pihak sekolah mendatangkan pelatih dari luar sekollah, yakni “HADLI” dari Pangandaran. Pada pelaksanaannya Ekstrakulikuler tari ini dilaksanakan pada setiap hari Sabtu Sore. Pada saat itu setiap siswa dibebankan biaya latihan sebesar Rp. 125.000,00 dengan catatan siswa dilatih samai mahir.
Terbukti kurang dari 1 bulan para siswa mampu menaarikan beberapa tari Tradisional Seperti Tari jaipong dan tari Merak.
Masyarakat merespon positif dengan diadakannya Ekstrakulikuler Tari tradisional Ini. Terbukti para siswa yang mengikuti Ekstra ini mendapat panggilan dibeberapa Hajatan. Para siswa ini diundang guna meramaikan hajatan tersebut sekaligus memberikan pelajaran tentang bagaimana tampil didepan halayak ramai.
Hingga puncaknya, salah satu siswa SDN 2 margacinta mampu menjadi perwakilan untuk Kecamatan cijulang guna mengikuti Lomba Seni tari Tradisional di Tingkat Kabupaten. Yakni Diana Hermayanti (Kelas IV).
Maka dari itu dengan penuh semangat, SDN 2 Margacinta meneruskan keberlangsungan Ekstrakulikuler ini. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, sekarang pihak sekolah tidak mendatangkan pelatih dari luar, teteapi memberdayakan Guru yang sudah mampu dalam bidang Seni Tari yaitu Ibu Ati Sumiati, S.Pd.I









 



Manfaatkan lahan kosong disamping sekolah, para  siswa kelas VI menanam berbagai macam jenis tumbuhan. Kegiatan ini dilakukan dengan harapan kelak ketika mereka dewasa memiliki kemampuan untuk bercocok tanam.
Menurut AHDI, S.Pd (Kepala Sekolah SDN 2 Margacinta) kegiatan ini sangat baik bagi perkembangan siswa. Karena dizaman sekarang banyak anak enggang berjibaku dengan tanah, mereka lebih suka bermain internet, gadget, computer dan lain-lainnya.

Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu “tutur Ahdi,  S.Pd”. dahulu sepulang sekolah kami habiskan membantu orangtua ke kebun, bahkan ikut pula menanam berbagai jenis tanaman. Baik itu tanaman palawija, ataupun tanaman yang yang bernilai ekonomi  tinggi. Namun anak-anak sekarang tidak seperti di zaman kami dulu “tuturnya”. Dan dalam hal ini sekolah berperan penting.

            Sang penjaga sekolah Andi Sukmayadi (23) menuturkan gerakan menanam  lahan kosong ini adalah ide dari para siswa sendiri. Ketika pagi hari Kodarso mendekati saya kemudian dia mengungkapkan ingin menanami lahan kosong dipinggiran sekolah “kata sang penjaga sekolah”. Andi pun meresponnya, dan kemudian memberitahukan kepada dewan guru yang lain. Tanggapan psositif pun dilakukan oleh dewan guru. Bahkan dikeesokan harinya ada dewan guru yang sengaja membawa bibit pohon pisang, kunyit, singkong, tekokak, dan lainnya untuk ditanam.











Durian, siapa yangtidak kenal dan menyukai buah ini. Bahkan jika sedang musim durian seperti sekarang ini banyk sekali warung dadakan dipinggir jalan yang menjajakan berbagai  jenis Durian. Mulai dari durian biasa, durian montong, dan lain sebagainya.
Ya memang jika ingin durian yang bagus itu sangat susah dan sidikit agak mahal. Apalagi musim durian sekarang, hamper semua durian rasanya itu dingin. Hal tersebut memang dibenarkan oleh para pemilik kebun durian dan para penjualnya.
Namun bagi SDN 2 Margacinta jika sudah musim Durian tiba, maka mereka  tidak perlu risau apalagi harus banyak mengeluarkan biaya hanya demi menikmati buah durian ini. Hal ini dikarenakan Ahdi, S.Pd (Kepala Sekolah) memiliki sangat banyak pohon durian yang produktif. Bahkan jika sedang musim durian dan kualitas duriannya bagus dari 1 pohon saja sudah bias menghasilkan jutaan Rupiah “tutur Ahdi, S.Pd”. namun dimusim sekarang  karena rasanya lumamyan dingin, maka harga Durian sedikit mengalami anjok. Bahkan Durian yang ukurannya sedag bisa dihargai hanya Rp.10.000 saja.
Sepulang sekolah dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selesai bapak Ahdi mengajak para dewan guru beserta staf untuk pergi ke kebunnya yang tidak jauh dari sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan sesudah berakhir KBM supaya KBM tersebut tidak terganggu. Jalan menuju kebunyya lumayan dekat, namun karena habis hujan, maka jalan agak sedikit licin.  Bahkan para Ibu guru agak sedikit kesulitan ketika menyebrangi sungai hanya dengan beberapa buah bamboo yang menjadi jembatannya.
Namun semua rintangan itu tidak terasa sesaat telah sampai di kebun tersebut. Para guru  disuguhkan dengan banyaknya pohon durian dengan buahnya yang sangat lebat. Apalagi buah yang sudah masak sangat banyak dan sudah menggantun pada tali yang telah dipasang sebelumnya.  Durian pun diturunkan dan para guru siap untuk menyantap durian tersebut. Setelah dirasa cukup memakan durian didekat pohonnya, maka para guru memutuskan untuk pulang karena waktu yang sudah lumayan sore, yakni pukul 15.00 WIB.
Tidak puas hanya dengan memakan didekat pohonnya, makan Bapak Ahdi, S.Pd memberikan kepada durian untuk dibawa pulang kepada guru-guru.