Friday, 24 July 2015

"Ngke mah satiap aya nu hajat wajib nanggap badud" itulah segelintir perkataan yang terlontar dari H. Edi Supriadi dalam pertemuan Kamis Malam 23 Juli 2015.

Mungkin saja perkataan yang terlontar secara spontan ini menjadi peraturan Desa. Bukan berarti Kepala Desa memaksakan agar setiap orang yang menggaelar hajatan harus menampilkan Badud, namun perkatan tersebut lebih menuju kepada pelestarian dan menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada Kesenian Asli Desa Margacinta.

Orang dari negara asing  saja suka dan melestarikan kesenian kita, masa kita yang memiliki kesenian tidak melestarikan dan mencintainya.

Namun jikalau memang ini nantinya disetujui oleh semua pihak, maka bukanlah para pemain badud dari Orang dewasa, namun para pemain badud dari para anak muda. Tepatnya lami para generasi muda Badud. Baik itu siswa SD, SMP dan SLTA yang penting siswa tersebut asli warga Margacinta.

Properti Badud
"Jadikanlah badud sebagai Icon Desa Margacinta"
Itulah salah satu yang dikatakan oleh Kang Ius selaku dewan Kesenian Kabupaten Pangandaran.

Beliau juga sangat mendukung bahwa Desa Margacinta berkeinginan menjadi Desa Wisata Alam dan Budaya. Namun jangan memberikan kesan terburu, karena jika terburu-buru nantinya takut ada rasa penyesalan ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Kang Ius menambah dirinya sangat terkesan dengan peregenerasian kesenian di Desa Margacinta.
Namun jangan sampai waktu para generasi muda ini terlalu difocuskan dalam hal seni saja. Apalagi sebagian banyak para Generasi Muda Badud ini adalah anak Sekolah Dasar
Dalam dialognya pada Kamis Malam di Sekretariat Lingkung Seni Jenggala Manik Desa Margacinta, H. Edi Supriadi selaku Kepala Desa Margacinta menuturkan bahwa nantinya akan dibangun 2 sanggar di Margacinta. Yakni sanggar untuk SDN 1 Margacinta dan SDN 2 Margacinta

Hal ini sebagai  ciri bahwa Desa Margacinta benar-benar serius dalam peregenerasian akan seni dan Budaya. nantinya disanggar itu akan diisi berbagai aktifitas mengenai seni.

Kedepan setiap hari Minggu siswa-siswi SDN 2 Margacinta wajib untuk datang ke lokasi Kampung Budaya. nantinya para siswa akan ditempa dengan berbagai ilmu tentang kesenian. Baik itu Kesenian Badud atau seni-seni yang lain.

Untuk sementara SDN 1 Margacinta bisa berlatih di Saung Angklung Mang Koko dan SDn 2 Margacinta  di kampung Budaya, namun setelah terwujudnya sanggar nantinya semua latihan akan difokus di sanggar tersebut.

Para siswa juga kan dipasilitasi terutama dalam segi properti. Dan Insya Alloh akan menyisihkan dari Anggarah tahun 2015.

Tepatnya Kamis malam 23 Juli 2015 diadakan pertemuan beberapa tokoh seni dan budaya Desa Margacinta yang juga dihadiri oleh Kasi Seni Budaya Disdikbudpora Kabupaten Pangandaran, Dewan Seni Pangandaran.

Dalam pertemuan ini Ketua BPD Desa Margacinta yang merangkap sebagai Dewan Kesenian Kabupaten Pangandaran Drs. Cucu Gumilar menunturkan bahwa ada touris asing yang tertarik pada kesenian Badud dan ingin menyaksikannya secara langsung. 

Namun dikarenakan waktu para touris yang terbatas membuat pementasan Kesenian badud ini tidak dapat dilaksanakan di Kampung Budaya di Dusun Margajaya. Nah inilah yang menjadi salah satu pint penting dalam pertemuan yang diadakan di Sekretariat Lingkung Seni Jenggala Manik di dekat kantor Desa Margacinta.
Untuk tempat pagelaran sendiri, nantinya ada di design se asri mungkin. Karena wisatwan asing datang ingin melihat kesenian dan keasrian khas Indonesia bukan khas negara-negara lain.

Drs. Cucu Gumilar menjabarkan bahwa nantinya untuk penampilan kesenian badud yang akan dilaksanakan di Dusun Balengbeng. Pusat Kesenian tetap di Kampung Budaya, namun untuk penampilan Seni bagi para wisatawan asing akan diadakan disini di Dusun balengbeng.

Dalam kesempatan itu pula Drs. Cucu Gumilar juga membahas tentang durasi penampilan Kesenian badud. Diharapkan penampilan Kesenian badud tidak terlalu lama, karena waktu wisatawan asing yang terbatas. Jadi bagaimana caranya penampilan badud ini simple namun semua hal didalamnya masuk. Inilah yang harus kita pecahkan bersama "tuturnya"


Wednesday, 22 July 2015



Kedepannya para pengunjung yang akan masuk ke kawasan Lokasi Kampung Budaya akan diwajibkan memakai iket khas sunda. Seperti halya di Borobudur yang mewajibkan pengunjungnya memakai kain dan dipakai.

Perihal ini terlontar dari Asep Kartiwa saat memberikan materi pada pertemuan pemuda di Kampung Budaya Rabu malam 22 Juli 2015. “Para pengunjung wajib memakai iket sunda jika ingin masuk ke lokasi Kampung Budaya” tutur Asep.

Pastinya tidak semua orang punya iket sunda apalagi orang dari kota besar. Nah inilah yang nantinya akan menjadi peluang usaha. Maka akan ada stand khusus yang nantinya menyewakan iket sunda.

Bagaimana jika para pengunjung ingin membeli iket tersebut? Maka kita sudah sediakan stand khusus yang menjual berbagai macam iket khas sunda.


Dalam mudiknya, Sahdi/ Aji panjalu berkesempatan mencoba objek wisata di Desa Margacinta. Yakni Cijoelang Body rafting. 

Namun pada pertemuan rabu malam 22 Juli 2015 beliau menceritakan beberapa kritik kepada pengelola Cijoelang Body rafting margacinta. Diantaranya:



  • ·         Pengelola tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik, seperti meminta no kontak HP, dll. Padahal dari 1 orang itu dapat mendatang pengunjung-pengunjung yang lain
  • ·         Para pemandu kurang interaksi dengan pengunjung
  • ·         Pemandu kurang memberikan penjelasan tentang objek yang ditemukan diperjalanan. Harus ada pengetahuan yang didapat oleh pengunjung.
  • ·         Kurangnya pelayanan terhadap pengunjung

 Saran 
Saran dari saya buatlah papan besar. Nah disana natinya ditempel foto-foto tamu yang sudah berkunjung. Baik itu orang biasa ataupun para pejabat negara.

Nantinya papan tersebut akan menjadi daya tari tersendiri bagi para pengunjung. Dan mereka semakin percaya bahwa objek wisata ini pantas untuk dikunjungi.


Pemberian materi dalam pertemuan pemuda 3 dusun di kampung Budaya mengenai Desa Wisata margacinta ditutup dengan materi dari abah Kunay. Nama Ababh Kunay mungkin tidak asing lagi terdengar. Apalagi bagi orang Margacinta. Karena beliau juga putra asli daerah Margacinta.

Abah kunay adalah salah satu pendiri Objek wisata Santirah yang sedang populer di kabupaten Pangandaran. Dalam kesempatannya, beliau menuturkan bahwa untuk sukses suatu wisata haruslah memiliki cita-cita/ konsep yang jelas. Apa yang akan kita jual dari objek wisata tersebut. Apalagi Margacinta berjudul Desa Wisata alam dan Budaya.

Beliau menambahkan kita harus focus kepada tujuan yang ingn dicapai. Karena jika focus ini hilang, maka kesuksesan mulai menghilang pula.

Untuk menjadi suatu daerah yang maju pastinya memerlukan dukungan dari semua pihak. Bukan hanya perangkat Desa, tapi dari seluruh warga Margacinta. Dan apakah warga sudah siap Desanya Menjadi Desa Wisata? Karena kesiapan warga menjadi suatu hal yang sangat penting apalagi kesiapan mental. 

“Membangun roma tidak selesai dalam satu malam. Maka untuk menuju kesuksesan membutuhkan waktu dan perjuangan” tutur nya